twitter
rss

1. Sosialisasi Pemilu Belum Merata

JAKARTA, SABTU - Sejumlah peserta simulasi pemungutan suara yang dilaksanakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jakarta Pusat, menilai sosialisasi Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 belum merata.

Peserta simulasi, Sri (69), ketika ditemui setelah pemungutan suara di Jakarta, Sabtu (29/11), mengaku tidak mengetahui waktu pelaksanaan pemilu legislatif yang sebenarnya. Ia hanya mengetahui bahwa pemilihan umum dilaksanakan pada 2009. "Saya tidak tahu tanggalnya," ujarnya.

Senada dengan Sri, Jumini (51), peserta simulasi juga mengaku tidak mengetahui tanggal pelaksanaan pemilu legislatif. "Kurang tahu ya kapan pemilu dimulai," katanya.

Ia mengaku tidak mendapat informasi seputar pelaksanaan Pemilu 2009. Ia hanya mengetahui bahwa pemungutan suara dilaksanakan dengan memberikan tanda centang satu kali. Informasi tersebut juga baru ia dapatkan dari petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), sesaat sebelum pelaksaan simulasi dimulai.

Berbeda dengan Sriwuhni dan Jumini, Audrin (19) mengatakan telah mendapatkan informasi pelaksanaan pemilu legislatif pada 9 April 2009. Ia juga mengatakan telah memahami proses penandaan suara.

"Tetapi menurut saya, yang perlu lebih disosialisasikan lagi tentang partai peserta pemilu. Saya banyak yang tidak kenal," kata Audrin.

Menurut dia, sosialisasi mengenai partai politik peserta pemilu sangat sedikit, akibatnya ia kebingungan ketika harus menentukan pilihannya.

Sementara itu, simulasi pemungutan suara untuk memilih anggota DPR, DPRD, dan DPD berlangsung di Kantor KPU Jakarta Pusat. Simulasi berlangsung sejak pukul 07.30 WIB dan diikuti 369 pemilih. Jumlah pemilih yang terdaftar di Jakarta Pusat sebagai peserta simulasi yakni 480 orang, namun pemilih yang hadir dan memberikan suara yakni 369 pemilih.

Sebelumnya, anggota KPU Andi Nurpati mengatakan simulasi ini dilakukan untuk mendapat gambaran tentang proses pemilihan langsung dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penghitungan dan rekapitulasi hasil pemungutan suara.

"Ini adalah simulasi pertama setelah daftar pemilih tetap (DPT) diumumkan," katanya disela-sela simulasi.

Tampak hadir dalam acara simulasi yakni Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary, anggota KPU I Gusti Putu Artha, Endang Sulastri, Andi Nurpati, dan Sekjen KPU Suripto Bambang Setyadi. Selain itu simulasi juga dihadiri oleh saksi dari partai politik dan anggota DPD. Sebelumnya, KPU telah melaksanakan simulasi pemungutan suara di tiga tempat yakni Sidoarjo, Banda Aceh, dan Papua.
JAKARTA, SABTU - Sejumlah peserta simulasi pemungutan suara yang dilaksanakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jakarta Pusat, menilai sosialisasi Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 belum merata.

Peserta simulasi, Sri (69), ketika ditemui setelah pemungutan suara di Jakarta, Sabtu (29/11), mengaku tidak mengetahui waktu pelaksanaan pemilu legislatif yang sebenarnya. Ia hanya mengetahui bahwa pemilihan umum dilaksanakan pada 2009. "Saya tidak tahu tanggalnya," ujarnya.

Senada dengan Sri, Jumini (51), peserta simulasi juga mengaku tidak mengetahui tanggal pelaksanaan pemilu legislatif. "Kurang tahu ya kapan pemilu dimulai," katanya.

Ia mengaku tidak mendapat informasi seputar pelaksanaan Pemilu 2009. Ia hanya mengetahui bahwa pemungutan suara dilaksanakan dengan memberikan tanda centang satu kali. Informasi tersebut juga baru ia dapatkan dari petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), sesaat sebelum pelaksaan simulasi dimulai.

Berbeda dengan Sriwuhni dan Jumini, Audrin (19) mengatakan telah mendapatkan informasi pelaksanaan pemilu legislatif pada 9 April 2009. Ia juga mengatakan telah memahami proses penandaan suara.

"Tetapi menurut saya, yang perlu lebih disosialisasikan lagi tentang partai peserta pemilu. Saya banyak yang tidak kenal," kata Audrin.

Menurut dia, sosialisasi mengenai partai politik peserta pemilu sangat sedikit, akibatnya ia kebingungan ketika harus menentukan pilihannya.

Sementara itu, simulasi pemungutan suara untuk memilih anggota DPR, DPRD, dan DPD berlangsung di Kantor KPU Jakarta Pusat. Simulasi berlangsung sejak pukul 07.30 WIB dan diikuti 369 pemilih. Jumlah pemilih yang terdaftar di Jakarta Pusat sebagai peserta simulasi yakni 480 orang, namun pemilih yang hadir dan memberikan suara yakni 369 pemilih.

Sebelumnya, anggota KPU Andi Nurpati mengatakan simulasi ini dilakukan untuk mendapat gambaran tentang proses pemilihan langsung dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penghitungan dan rekapitulasi hasil pemungutan suara.

"Ini adalah simulasi pertama setelah daftar pemilih tetap (DPT) diumumkan," katanya disela-sela simulasi.

Tampak hadir dalam acara simulasi yakni Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary, anggota KPU I Gusti Putu Artha, Endang Sulastri, Andi Nurpati, dan Sekjen KPU Suripto Bambang Setyadi. Selain itu simulasi juga dihadiri oleh saksi dari partai politik dan anggota DPD. Sebelumnya, KPU telah melaksanakan simulasi pemungutan suara di tiga tempat yakni Sidoarjo, Banda Aceh, dan Papua.
 JAKARTA, SABTU - Sejumlah peserta simulasi pemungutan suara yang dilaksanakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jakarta Pusat, menilai sosialisasi Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 belum merata.

Peserta simulasi, Sri (69), ketika ditemui setelah pemungutan suara di Jakarta, Sabtu (29/11), mengaku tidak mengetahui waktu pelaksanaan pemilu legislatif yang sebenarnya. Ia hanya mengetahui bahwa pemilihan umum dilaksanakan pada 2009. "Saya tidak tahu tanggalnya," ujarnya.

Senada dengan Sri, Jumini (51), peserta simulasi juga mengaku tidak mengetahui tanggal pelaksanaan pemilu legislatif. "Kurang tahu ya kapan pemilu dimulai," katanya.

Ia mengaku tidak mendapat informasi seputar pelaksanaan Pemilu 2009. Ia hanya mengetahui bahwa pemungutan suara dilaksanakan dengan memberikan tanda centang satu kali. Informasi tersebut juga baru ia dapatkan dari petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), sesaat sebelum pelaksaan simulasi dimulai.

Berbeda dengan Sriwuhni dan Jumini, Audrin (19) mengatakan telah mendapatkan informasi pelaksanaan pemilu legislatif pada 9 April 2009. Ia juga mengatakan telah memahami proses penandaan suara.

"Tetapi menurut saya, yang perlu lebih disosialisasikan lagi tentang partai peserta pemilu. Saya banyak yang tidak kenal," kata Audrin.

Menurut dia, sosialisasi mengenai partai politik peserta pemilu sangat sedikit, akibatnya ia kebingungan ketika harus menentukan pilihannya.

Sementara itu, simulasi pemungutan suara untuk memilih anggota DPR, DPRD, dan DPD berlangsung di Kantor KPU Jakarta Pusat. Simulasi berlangsung sejak pukul 07.30 WIB dan diikuti 369 pemilih. Jumlah pemilih yang terdaftar di Jakarta Pusat sebagai peserta simulasi yakni 480 orang, namun pemilih yang hadir dan memberikan suara yakni 369 pemilih.

Sebelumnya, anggota KPU Andi Nurpati mengatakan simulasi ini dilakukan untuk mendapat gambaran tentang proses pemilihan langsung dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penghitungan dan rekapitulasi hasil pemungutan suara.

"Ini adalah simulasi pertama setelah daftar pemilih tetap (DPT) diumumkan," katanya disela-sela simulasi.

Tampak hadir dalam acara simulasi yakni Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary, anggota KPU I Gusti Putu Artha, Endang Sulastri, Andi Nurpati, dan Sekjen KPU Suripto Bambang Setyadi. Selain itu simulasi juga dihadiri oleh saksi dari partai politik dan anggota DPD. Sebelumnya, KPU telah melaksanakan simulasi pemungutan suara di tiga tempat yakni Sidoarjo, Banda Aceh, dan Papua. (sumber : http://nasional.kompas.com/read/2008/11/29/14531241/sosialisasi.pemilu.belum.merata)


2. Pelatihan Kampanye Untuk Caleg Klaten

JAKARTA, RABU - Paguyuban Klaten Madani menggelar acara politik yang unik. Palatihan Strategi Kampanye untuk Calon Legislatif DPRD Klaten. Begitu tajuk acara yang akan digelar 24-25 November di Restoran Murah Meriah Klaten.

Galata Conda Prihastanto, Ketua Panitia Penyelenggara, di Jakarta kepada wartawan mengatakan pelatihan semacam itu sangat diperlukan. "Ini mengingat Klaten yang selama ini anggota DPRD-nya relatif bersih, harus dijaga, sehingga tidak seperti daerah lain yang banyak berurusan dengan polisi karena terjebak korupsi," kata Galata Conda, Rabu siang.

Ketua Umum Paguyuban Klaten Madani, yang juga Direktur Umum dan SDM Pertamina menjelaskan pendampingan bukan hanya pada awal para caleg maju dalam Pemilu. "Tetapi untuk selanjutnya kami akan mendampingi, mengingatkan mereka. Yang perlu terus menerus diingatkan adalah fungsi perwakilan, mereka adalah wakil rakyat, wakil kita semua," kata Waluyo.

Pelatihan, kata Conda, diharapkan akan diikuti seluruh wakil Parpol yang maju dalam Pemilu Legislatif. "Hingga siang ini, sudah ada 9 parpol di Klaten yang menyatakan ikut dalam program ini," katanya.

Sekarang, kata Conda, politisi tidk bisa lagi bergantung pada satu pengusasa, melainkan lebih bergantung pada konstituen dan partai politiknya. "Oleh karena itu, menjadi dan bekerja sebagai politisi bukanlah persoalan mudah lagi saat ini dan di masa mendatang," katanya. (sumber : http://nasional.kompas.com/read/2008/11/19/16374381/pelatihan.kampanye.untuk.caleg.klaten)

0 komentar:

Posting Komentar